I follow the stream to make one then “Oh, this is what feels like to have a Twitter. Ok.” (Since I don’t have Twitter but I never felt any urge to make one until people started talking about new app lately and said there’s a new app like Twitter and I was being curious)
Then bored, delete. Always like that. Unfortunately, we can’t delete it without delete our instagram account which is SAD.
I feel like I’m not really into social media stuff (I posted occasionally when I feel I need to share it with my friends or when I want to catch someone’s attention lol) but I still have no brave to delete my Instagram or Facebook (though I never open the latter as well lol). Because deep inside, perhaps, I still want to connect with people. People whom I encountered in my life. I think that’s the essence of “social”. However, I see “media” is what we see the most. Don’t you think?
To me, having conversations through app like WhatsApp or Telegram is enough. Plus email.
In the meantime, when I’m ready to choose what social media I want to keep, it’s going to be Tumblr and Substack. Hm, in the meantime which I’m still unsure. LOL.
Does everything happen in repeat? How many times has it been repeated? Does reincarnation exist? How does it end?
Since I dreamt about the same dream or vision over and over again, can’t remember when -but every other or thrice or more years- I always wake up in the middle of the night because of it. Then, being scared to go back to sleep.
Have I ever lived in another past life?
If it does, I want to ask God to erase all our memories when He reborns us again. Simply, start from 0.
I thought it’s been over since it’s been years since it happened or, more precise, I’d forgotten. Is it part of memory or only a “repeated coincidence” dreams or does life have some secret?
Hearing news about the bus accident and I just realised I still have a trauma about it.
I had tried to overcome it, few months ago, but totally failed. I ended up to get off of the bus in Magelang. Less then one hour since I started the trip, still two and more hours to be at home.
Fortunately, my father was around in town (in Jogjakarta to attend some meeting) and he picked me up. Then he said, “It’s ok to be afraid. You don’t have to go by bus. It’s not a mandatory. Don’t force yourself. I’ll pick you up or you just have to drive yourself. Don’t be lazy.” 😂
Mungkin terdengar sepele. Tapi ini nggak biasa buat papaku. Dia adalah tipe papa yg “kamu harus bisa” ganti ban just in case you need it someday (walaupun pada akhirnya dibelikan pompa ban juga), kamu harus bisa naik kendaraan manual (meskipun beberapa tahun kemudian bakal diganti dengan matic juga and it works for both, car and motorcycle), kamu harus bisa mengelola keungan dan investasi (meskipun dia juga punya asuransi ini itu). Tapi di satu hal ini, dia nggak pernah memaksa dan cenderung “ya udahlah”. Mungkin menurutnya itu nggak penting. Tapi kadang² aku juga kepikiran. Gimana kalau nantinya ada acara yang butuh naik bus dan aku nggak bisa ikut karena takut. Isn’t it a weird reason to tell? Tapi marilah dipikir nanti. Kebetulan pernah 1x setelah kejadian kurang beruntung itu, aku naik bus. Untungnya cuma ke daerah tetangga, sekitar setengah sampai satu jam. It was fine. But I wasn’t okay deep inside. Aku panik, keringat dingin, deg-degan sepanjang perjalanan. Then I promise myself I won’t do that anymore. Til I wanted to try it again when I have to be apart from home, in Temanggung, and it became a total disaster karena sopirnya ugal²an plus penumpang overcapacity dan akunya jadi makin super duper panik. LOL.
It’s okay to be afraid. You don’t have to force yourself.
Well, that’s the story. Ketakutanku naik bus dan jalan tanjakan. Anehnya, kalau I’m the person in charge (the one who drives) dan jalannya menanjak aku nggak masalah. I have tested it in Temanggung yg mana jalanannya tanjakan semua and I was totally fine. But I wasn’t fine when someone drives me and I became the passenger. So, I think my problem is only with the bus and trust with the driver. Or the moment I’m bein in it, precisely.
Deep condolences to the family who’s in the bus accident. Please stay safe.
I’m not talkative kind of person. But once I feel close to someone, I’ll be “more” chatty. Someday, I told her about Kindle, in terms of e-reader, just because I felt like it was my best purchase of the year. Mulai dari fitur, benefit, sampai ekosistem. Especially, the perk of borrowing ebooks from American/US Public Library.
Months later, she asked me, how is it and blahblahblah then end up buying Boox. Semoga aja aku bukan jadi semacam racun ya. Ya … kalau pun emang racun, semoga racun yang memberikan kontribusi positif.
It’s contradictory feeling I have when I open tumblr after instagram. Here, I get motivated to study, don’t mind to leave a comment, analyse people’s mind by their post, or just simply hit love on theirs. Eventhough their post is about complaining (I understand, our life is full of surprise that makes us want to complain, mine’s too!), once again, I don’t mind. No one will judge you anyways.
But once I look at my instagram home, I feel small. It’s full of overexposure. You’re judged by your visual. Uh, but I still need it to see K-Drama spoiler 🙃
When my friends post or make reels, I say to myself: right, I’m not a part of instagram user. All I do is repost story my friends tag me in 😂 My mental health is still okay, they don’t affect me. Unfortunately, I realised the more I’m being exposed with their highly visual world, I wouldn’t feel any better. Well …
hi :) i like to make a big list of things i want to do each summer, and i thought i’d share all the resources i collected this year with y'all in case you want to do any of these things too <3
learn a new language. 🦜
i’ve collected a bunch of resources for french, korean, and mandarin so i’ll be making separate posts for those languages. but here’s some of my favourite resources - most of them are based off of krashen’s comprehensible input theory which is why they are fun resources:
make your own music or learn how audio software works. 🎵
audionodes is a cool free browser software that lets you do this without downloading anything!
learn about personal finance. 💵
i feel like it’s hard to devote proper time to learning about personal finance so a lot of us rely on learning as we go, but there are some good resources and tools online that are quick and easy when you have 5-30 min to spare!
Tadi sekitar jam 20.00, ku sudah pakai daster bobok. Udah pakai skinker. Udah gak ada niat kemana mana lagi.
Trus ya, pikirannya mulai overthinking. Overthinking yang ngajak pengen sedih sedih. Kayaknya mau dapat tamu bulanan deh 😌
Lagi tenggelam bersama dengan pikiran yang overthinking,
Ada pesan WA dari kurir. Ngabarin kalau paket udah dititipin di Security.
Paket nya dari Via.
Wow. Ini paketnya dikirim tanpa pemberitahuan sama sekali. Jreng jreng jreng.
Langsung bersemangat jemput paket ke area kantor.
Sebenarnya bisa aja besok pagi ketika mau ngantor jemput paket nya.
Tapi sukacita karena dapat kejutan ginian berhasil membuyarkan overthinking malam ini.
Ya gitu. Hidup emang lucu. Dalam sekejap rasa sedih bisa diganti dengan sukacita dengan cara tak terduga.
Segera ganti daster dengan pakaian yang lebih layak.
Puji Tuhan, jalan udah sepi.
Gitu sampai di Pos Satpam, kaget sendiri liat paketnya yang gede dan berat.
Satpam nya jadi repot ketika ngangkat 😂
Sementara itu, aku takjub dan sekaligus repot mikirin,
“Duh ini ongkirnya mahal. Sebanyak ini loh”
Ya secara hamba tinggal di daerah perifer 🙂
Sampai di kos, paketnya dibuka.
Dan senang sekali, ini isinya jajanan semua. Ada beraneka ragam. Ada 9 jenis.
Makasih Viaaa :)
Duh. Jadi terharu. Ku senang sekali.
Padahal belum pernah ketemu Via sama sekali. Kenalannya dari Tumblr. Itupun dari like postingan yang kemudian beralih ke kolom chat lalu akhirnya beralih ke WA.
Sungguh ya, kisah pertemanan bisa dimulai dari mana saja.
Aku masih bersimpuh tepat di samping gundukan tanah
tempat kakek terbaring ditemani air mata yang terus menetes dengan derasnya.
Tak kupedulikan orang-orang menatapku iba. Satu per satu kerabat jauhku mulai
pergi untuk kembali bekerja. Tentu saja tak bisa kucegah, aku tidak ingin
menjadi seorang yatim piatu yang egois.
Meskipun masih ada beberapa pelayat berdatangan
mengucapkan turut belasungkawa, tak ada satu pun yang berhasil membuatku
menghentikan tangisan memilukan ini. Sampai pada akhirnya, aku melihat ia, tak
jauh dari tempatku berada. Aku sendiri tak tahu sejak kapan ia berada di sana,
menjadi penonton setia.
Ia duduk menyandarkan dagu sambil menatap ke arahku
dengan pandangan sedih seolah ikut tenggelam dalam lautan air mataku. Mengetahui
dirinya sudah tertangkap basah olehku, ia menegakkan dagu dan duduk tegak, telinganya
pun ikut berdiri. Kami saling bertatapan. Beberapa kali ia memiringkan
kepalanya dan menggerakkan kedua telinganya seolah berkata, “Kenapa kau menatapku seperti itu?”
Entah mengapa, hanya dengan sebuah tatapan, beban di atas
pundakku terasa lebih ringan. Bahkan, caranya memiringkan kepala sambil
menggerakkan ekor dan telinga bisa membuatku berhenti menangis dan tersenyum
kecil. Berbeda dengan kebanyakan pelayat yang datang membawa berbagai macam
wejangan namun tak benar-benar menabahkan. Memang, berkata lebih mudah daripada
bertindak.
Lama berdiam diri menjadi penonton, ia pun berdiri dan mulai
mendekat ke arahku. Ia berusaha mencari jalan di antara puluhan batu nisan yang
terbentang di antara kami. Sempat beberapa kali ia berhenti, duduk sebentar,
lalu kembali berjalan perlahan ke arahku. Seolah ingin memastikan bahwa aku
tidak takut padanya.
Akhirnya, ia sampai di tempatku berada. Dengan ragu,
seolah takut akan kuusir, ia hanya berdiam diri di sampingku yang masih dalam
posisi bersimpuh. Melihatnya berdiri dengan gagah sedekat ini, membuatku ingin
membenamkan diriku mencari kehangatan di balik bulu lebatnya.
“Halo, siapa namamu?” tanyaku padanya sambil mencoba untuk
mengulurkan tangan berusaha menggapainya.
Merasa diterima, ia pun mulai berani mendekat dan ikut
bersimpuh di samping makam kakek lalu menyandarkan kepalanya di atas pahaku.
Dengan sigap, aku mulai mengelus surai abu-abu lembutnya. Ia pun mendongak, kami
bertatapan lama. Kemudian sebuah kenangan berhasil muncul kembali ke permukaan.
Iris mata itu tampak seperti milik kakek dan tatapan itu juga mirip dengan
tatapan sayang kakek padaku.
Selamat membaca. Selamat mendengarkan. Selamat menikmati karya kolaborasi dari anak-anak ruang kolaborasi. Jangan bosan menunggu karya-karya kolaborasi selanjutnya ya! :)
Ada yang dititipkan Tuhan pada setiap kelahiran; harapan Agar mewujud kemanfaatan bagi sekitar Agar menjadi penerang bagi kegelapan Lalu, saat lembar usia berganti waktu demi waktu, ada amin dari semesta untuk pengabulan itu semua.
Selamat hari lahir, Via. Moga bermanfaat bagi sekitar. @krisanyuanita
Usiamu bertambah, kematian semakin dekat Bukan tidak mungkin bisa memperbanyak ladang amal Kelak bisa berjalan mulus di shiratal mustaqim Disambut hangat oleh malaikat firdaus @priaperindu
Ada tuntutan yang ikut bertambah seiring bertambahnya usia Semoga bisa menjadi dewasa dalam menghadapi segala Agar hidup tak terselimuti rasa gelisah Agar hidup tetap dijalani dengan bahagia
Selamat bertambah usia mbak vii, semoga semakin jadi yang bermanfaat :) @ayisafarillah
Kuncup bunga pagi bermekaran Merah harum mengisi ruang Dan waktu mengitari ladang gersang Kembali memupuk usia dan indahmu @symphonykalbu
Seperti kepompong yang bermetomorfosis menjadi kupu-kupu Kau kini beranjak dewasa dan menua Hentakkan kakimu akan semakin jauh Namun masa kecilmu takkan hilang karena telah menjadi diarymu @pemudabiasa
Semoga harapan tak sekedar terucapkan Keinginan tak berupa angan Capailah segala dengan kebaikan-kebaikan Dan berkah menemani setiap perjalanan. @menuliskan
Lihatlah kerlip bintang di angkasa Ia tak pernah lelah bercengkrama sampai dimakan usia Kau yang tumbuh menjadi baru, sinarilah duniamu dengan gemintang syahdu @es-kacang-merah
Sebuah doa Hadiah sederhana Semoga berkah Bertambah sudah kedewasaan Semoga kesederhanaan dapat membawa berkah menuju kedewasaan @penulisajak
Kita hinggap di pohon usia; yang rantinya terbuat dari rangkai doa, dan batangnya adalah waktu. Kau adalah isyarat alam, dari akar-akar yang melukai bumi–yang merasuk ke seluruh nadi kehidupan: menciptakan harmoni yang diamini nyanyi burung-burung setiap pagi. Usiamu: makrifat untuk sesamamu. @narasibulanmerah
Teman Imaji adalah
sebuah film pecah tentang anak kota hujan bernama Kica yang digambarkan sebagai
gadis dengan pemikiran-pemikiran ajaib dengan banyak sebutan unik khasnya,
mulai dari baju kejujuran, kotatsu, hingga janji pelaut. Diceritakan dalam
sudut pandang orang ketiga membuat pembaca dapat melihat tiap karakter secara
luas. Meskipun demikian Mutia Prawitasari (@prawitamutia) tetap memfokuskan inti cerita pada
karakter utama dan berhasil membawa saya, sebagai pembaca, ikut ke dalam dunianya.
Semua terasa nyata, tidak hanya fiksi belaka.
Menjadi salah satu dari sekian banyak pendaftar yang akhirnya mendapat kursi emas di kelas menulis generasi pertama adalah kebangaan tersendiri. Saya banyak belajar di kelas menulis ini. Tidak hanya tentang dunia kepenulisan tapi juga tentang apresiasi diri dan konsistensi. Kesempatan tidak datang dua kali dan saya bersyukur karena mendapat kesempatan berharga ini.